Aku untukmu

 



"Aku ingin menjadi lebih baik daripada sebelumnya, aku ingin memperbaiki kegagalan ini lebih sempurna lagi. Aku sudah dua kali menikah, tapi semuanya harus berakhir di pengadilan. Aku ingin punya sekali, lelaki yang bisa membimbingku ke jalan yang lebih baik. Aku ingin mendapatkan imam yang bisa mengaji dan bisa menjadi imam ketika menunaikan shalat ibadah." Curhatnya perempuan yang kebetulan satu kursi di bis. Awalnya hanya sebatas saling mengenal, sampai pada akhirnya bercerita masalah pribadinya yang kelam. Air matanya demi sedikit-sedikit mengalir, membasahi wajah putihnya yang di oles oleh bedak kecantikan. Perempuan itu dalam perjalanan kembali ke tempat pekerjaannya yang sudah satu tahun menjadi karyawan di salah satu toko Surabaya. 

"Kamu mau ke mana mas," tanya perempuan itu. 

"Kalau aku sih mau ke tempat pekerjaan, sudah lama tidak ke sana," jawabku.

"Mas, sebagai apa di sana?"

"Pemilik usahanya!"

"Loh, kok tidak bawa mobil sendiri mas?" 

"Sudah terbiasa saja ikut bis"

"Kenapa sekalian tidak  bersama keluarganya?" 

"Aku sudah bercerai 3 bulan silam dengan istriku,"

"Beneran mas?"

"Iya, mau bagaimana lagi kalau sudah bukan jodohnya lagi."

"Iya sih memang begitu kalau bukan jodoh."

"Kamu boleh deh sekalian aku jadikan Istri"

"Secepat ini mas, aku dan kamu masih saja baru kenal dan belum tahu sifatku seperti apa sehingga ujungnya di pengadilan lagi."

"Semoga saja tidak, semoga selamanya."

"Aku belum bisa secepat ini, aku masih mau bekerja dulu dan menikmati kebebasan dari semua kewajiban."

"Ya tidak apa-apa lah kalau begitu, kalau begitu boleh minta nomernya WhatsApp nya. Siapa tau nanti kamu bisa bekerja di tempat usahanya aku."

"Boleh mas, silahkan catat saja."

"Oke siap, terimakasih."

"Aku akan turun di sini ya, selamat sampai tujuan." Ucapnya perempuan itu, ia langsung turun dan bis berangkat sesuai tujuannya.


Namanya, Ema. Begitulah nama yang diberikan ketika perkenalan, umurnya sekitar 24 tahun. Sedangkan aku sudah 27 tahun, selisih 3 tahun saja. Bayangan wajahnya menghantui perjalanan menuju kantor. Walau bagaimana pun aku harus segera mempunyai pendamping lagi. Sebab tidak mungkin memikul banyak usaha tapi tidak ada orang yang menghiburya di kala rasa letih menyambar.


Aku harus turun menuju kantor tempat perusahaan yang aku kelola. Para satpam sibuk mengatur parkir para pengunjung. Resepsionis cantik menyambutku dengan senyumannya sambil hormat. Para karyawan dan pegawai kantor menyambutku dengan penuh hormat. Dulu kala berdampingan dengan istri, tapi kini sudah tiada. 


Suasana kantor perusahaan di huni puluhan pegawai dan karyawan. Mereka tidak hanya kaum lelaki ada juga dari kaum perempuan. Seandainya aku memilih calon pendamping sekarang langsung dapat. Tapi, aku tidak mungkin harus mengambil dari mereka. 


Ema, ternyata memberikan pesan singkat lewat WhatsApp. "Sudah sampai mas?" "Iya sudah sampai, kamu juga?" "Iya mas...." 

"Ya sudah dulu, aku mau istirahat dulu"

"Oke, jangan lupa makan."

"Pasti, terimakasih perhatian mu."

"Sama-sama"


Sepertinya dia cocok untuk aku jadikan pendamping hidup. Walaupun dia orang desa, aku juga orang desa. Meskipun dia seorang karyawan, sedangkan aku CEO dari beberapa perusahaan tidak menjadi masalah. Yang terpenting dia selalu ada dan melaksanakan kewajibannya sebagai istri. Walaupun sebenarnya ada orang yang diam-diam mencintaiku, tapi aku tidak bisa untuk menerimanya. 


The Next Story'

1 Komentar

Posting Komentar
Lebih baru Lebih lama